Kapasitas data center global bakal berlipat, Indonesia siap jadi pemain kunci

Indonesia siap menjadi pemain kunci di bidang kecerdasan buatan (AI) setelah laporan terbaru JLL Global Data Center Outlook 2026 yang memperkirakan kapasitas data center dunia akan melonjak hampir dua kali lipat, dari 103 GW saat ini menjadi 200 GW pada tahun 2030.
“Kita sedang menyaksikan transformasi infrastruktur paling signifikan sejak era migrasi cloud,” ujar Matt Landek, Global Division President JLL dalam keterangan tertulis, Kamis.
Pertumbuhan besar ini memicu fase investasi “supercycle”. Dalam lima tahun ke depan, dibutuhkan dana luar biasa mencapai 3 triliun dolar AS (sekitar Rp46.000 triliun) untuk membangun infrastruktur pendukung global.
Pada tahun 2030 diperkirakan beban kerja AI memakan 50% total kapasitas global. Tak hanya itu, perusahaan teknologi raksasa akan mengalokasikan hingga 1 triliun dolar AS hanya untuk belanja pusat data hingga tahun 2026.
Fenomena ini bukan “gelembung” (gelembung). Hal ini dapat dilihat meskipun pertumbuhannya fantastis, tingkat hunian ( hunian ) global tetap sehat di angka 97%.
Primadona baru
Indonesia tidak hanya menjadi penonton. Pemerintah (Komdigi) memproyeksikan industri ini tumbuh 14% per tahun hingga 2028 sehingga bakal menjadi primadona baru di kawasan.
Fakta penting itu dapat dilihat dari pusat pertumbuhan selain Jakarta (CBD), wilayah Cikarang, Karawang, dan Batam kini menjadi magnet bagi investor dan hyperscaler karena akses listrik mandiri dan konektivitas strategis.
Investor properti mulai melirik data center sebagai sektor alternatif yang menjanjikan stabilitas jangka panjang selain logistik dan kesehatan. Tentunya hal ini akan menuntut adanya kesiapan listrik dan talenta digital agar Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara tetangga.
Meski prospeknya cerah, industri ini menghadapi tantangan operasional yang mencakup izin listrik mengingat beberapa negara, waktu tunggu koneksi listrik mencapai 4 tahun.
Tak hanya itu, waktu tunggu peralatan teknis kini mencapai 33 minggu, naik 50% dibandingkan sebelum pandemi. Kemudian pengembang mulai beralih ke energi terbarukan, baterai raksasa (BESS), hingga melirik energi nuklir untuk menjaga operasional tetap berkelanjutan.
“Investor di Indonesia terutama properti semakin aktif menjajaki sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas serta potensi pertumbuhan jangka panjang, dengan pusat data muncul sebagai salah satu segmen paling menarik, bersama dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.
Berdasarkan perkembangan terkini hingga awal tahun 2026, sektor properti teknologi di Indonesia, khususnya infrastruktur Pusat Data (Data Center), mengungkap beberapa wilayah strategis yang memiliki spesifikasi teknis dan keunggulan berbeda yang mencakup Jabodetabek dan Batam.
Jabodetabek tetap menjadi magnet utama dengan pertumbuhan kapasitas yang diprediksi melonjak dari 202 MW pada tahun 2024 menjadi 743 MW dalam beberapa tahun ke depan untuk mendukung teknologi AI. Jakarta CBD (Kuningan & Rasuna Said) akan fokus pada layanan keuangan dan latensi rendah . Menjadi rumah bagi titik pertukaran internet (Internet Exchange/IX). Lokasi seperti Gedung Cyber sangat krusial bagi penyedia konten dan perdagangan karena kedekatannya dengan infrastruktur jaringan inti.
Cikarang (Bekasi) sebagai koridor pusat data dengan detail lokasi Greenland International Industrial Center (GIIC) dan MM2100 menawarkan akses listrik mandiri dan stabil (dari PLN maupun pembangkit listrik swasta). Pemain besar seperti DCI Indonesia, NTT, dan Telkom (NeutraDC) memusatkan operasional skala besar mereka di sini.
Kemudian Karawang yang dikhususkan untuk ekspansi pemain global meliputi KIIC (Karawang International Industrial City) telah menarik investasi dari raksasa teknologi dunia seperti Amazon AWS dan Princeton Digital Group karena tersedianya lahan yang luas dan infrastruktur penunjang yang modern.
Sedangkan Batam diposisikan sebagai jembatan digital antara Indonesia dan pasar global, terutama Singapura. Wilayah utama Nongsa Digital Park dan Kawasan Industri Terpadu Kabil. Kawasan kedua ini unggul dengan konetivitasnya yang didukung keberadaan 14 kabel serat optik bawah laut internasional.
Keunggulan lain Batam merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menawarkan insentif pajak dan kemudahan regulasi. Lahan terkini di kawasan digital Batam sudah hampir habis ( terjual habis ) diborong oleh perusahaan global seperti Google, AWS, dan Oracle yang ingin menempatkan server dekat dengan pengguna di Asia Tenggara.
Pemerintah mulai mendorong pengembangan pusat data di luar Jawa untuk mendukung pemerataan digital dan pemanfaatan energi terbarukan. Terdapat pergeseran minat ke wilayah yang mampu menyediakan “Data Center Energy Corridors” dengan opsi energi hijau ( energi hijau ). Kota-kota seperti Surabaya, Medan, dan Bandung juga mulai didistribusikan untuk pusat data skala kecil hingga menengah ( edge data center ) guna mendukung latensi rendah bagi pengguna lokal di wilayah tersebut.
Oleh karena itu bagi investor yang mencari kedekatan dengan titik tukar data, Jakarta CBD adalah pilihan utama. Namun, untuk operasional berskala hyperscale dengan kebutuhan daya listrik masif, koridor Cikarang-Karawang adalah lokasi yang paling matang secara infrastruktur. Sementara itu, Batam adalah pilihan paling strategis untuk menargetkan pasar regional Asia-Pasifik.


