Ini alasan kenapa orang Jabodetabek yang menikmati layanan digital

By Ganet Dirgantoro Location: 2 min read26 views

Industri Financial Technology (Fintech) Indonesia diklaim “makin dewasa,” tapi data survei terbaru dari Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) tahun 2025 menunjukkan fakta pahit yang harus dipecahkan: Inklusi Keuangan Digital di Indonesia masih terpusat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).

Survei tahunan AFTECH 2024–2025 mengungkapkan secara blak-blakan, manfaat layanan digital masih sangat terkonsentrasi di satu area, meninggalkan jutaan masyarakat di luar kota metropolitan.

Mayoritas pengguna Fintech, penyumbang cuan terbesar, masih berada di wilayah ibu kota dan sekitarnya. Ini bukti nyata, layanan canggih digital gagal menembus daerah-daerah lain!

Orang berpenghasilan rendah (Rp 0–5 juta)—yang paling butuh pinjaman dan layanan finansial mikro—justru kesulitan mengakses Fintech. Pengguna utama didominasi kelompok menengah (Rp 5–10 juta).

Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, mengakui tantangan ini, menyebutnya sebagai “peta jalan” untuk ekosistem yang lebih kuat. Namun, fakta di lapangan menunjukkan jurang digital semakin lebar.

Di tengah lonjakan transaksi, ancaman keamanan siber tetap mencekam. Tapi, siapa sangka, fraud terbesar justru datang dari pihak luar perusahaan.

82,98% Ancaman Dominan: Responden Fintech melaporkan, ancaman fraud terbesar datang dari eksternal, termasuk konsumen (pengguna nakal), sindikat kejahatan, dan pihak ketiga.

Phishing Masih Laris: Serangan phishing (pencurian data) dialami 27,12% perusahaan—meski angkanya sedikit turun, ini tetap menjadi momok yang menghantui setiap transaksi Anda!

Industri Fintech diklaim maju, tapi ada krisis skill akut di dalamnya, plus masalah gender yang mencolok:

65,57% Perusahaan Kekurangan Jagoan AI: Lebih dari setengah perusahaan Fintech krisis talenta di bidang Artificial Intelligence (AI) dan Big Data, fondasi utama inovasi masa depan.

CEO Perempuan Langka: Hanya 25% perusahaan yang memiliki pimpinan (CEO) perempuan. Sebanyak 71% direksi perempuan masih di bawah 25%. Industri digital dinilai gagal memberikan kesetaraan gender di pucuk pimpinan.

Ada pergeseran besar dalam strategi bisnis Fintech:

43,4% Perusahaan Stop Cari Pendanaan! Fintech kini fokus cari untung sendiri. Mereka tak lagi aktif berburu modal eksternal, menandakan fase “membakar uang” sudah lewat dan kini beralih ke profitabilitas dan efisiensi.

Target Bisnis Berubah: Model Business-to-Business (B2B) melonjak dari 27,48% menjadi 50%. Fintech kini lebih dipercaya korporasi besar!

Sekjen AFTECH, Firlie Ganinduto, menekankan, data ini akan menjadi “refleksi” dan dasar untuk memperkuat tata kelola industri. Namun, bagi publik, angka-angka ini adalah tamparan keras yang menunjukkan bahwa manfaat ekonomi digital masih belum merata.