Era Baru Pelabuhan Tanpa Emisi, JICT Hadirkan “Monster” Ramah Lingkungan

By Ganet Dirgantoro Location: 2 min read4 views

Bayangan pelabuhan yang bising dengan deru mesin diesel dan kepulan asap hitam kini mulai memudar di Jakarta International Container Terminal (JICT). Sebagai terminal petikemas terbesar di Indonesia, JICT resmi memulai revolusi hijau dengan mengoperasikan armada alat berat bertenaga listrik murni (Electric Vehicle).

Langkah visioner ini ditandai dengan peluncuran dua unit Side Loader EV dan dua unit Reach Stacker EV pada Senin (26/01). Kehadiran armada “monster” listrik ini bukan sekadar pembaruan alat, melainkan pernyataan sikap JICT dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan transformasi teknologi di industri logistik.

Elektrifikasi armada ini merupakan jawaban JICT terhadap tuntutan dunia internasional akan pelabuhan yang lebih ramah lingkungan. Dengan beralih dari bahan bakar fosil ke energi listrik, JICT berhasil memangkas emisi gas buang secara drastis di area kerja.

Wakil Direktur Utama JICT, Budi Cahyono, menegaskan bahwa aspek lingkungan kini menjadi prioritas utama perusahaan. “Pelabuhan masa depan harus bersih, cerdas, dan efisien. Penggunaan alat EV adalah bagian dari perjalanan panjang kami menuju standar green port yang menjadi tuntutan global,” ungkap Budi.

Selain nol emisi, keunggulan lain yang langsung terasa adalah penurunan polusi suara. Mesin listrik yang jauh lebih senyap menciptakan kualitas lingkungan kerja yang lebih baik bagi para operator dan seluruh pekerja di lapangan.

Meski bergerak tanpa suara mesin yang menggelegar, performa Side Loader dan Reach Stacker listrik ini justru jauh lebih tangguh. Teknologi listrik memungkinkan kendali yang lebih presisi, getaran mesin yang minimal, dan handling yang lebih stabil.

Hal ini tentunya memberikan keuntungan ganda yakni: Bagi operator menjadi lebih nyaman karena minim getaran sehingga mengurangi kelelahan dan meningkatkan keselamatan kerja. Lantas keuntungan berikut perawatan mesin listrik jauh lebih efisien dibandingkan mesin diesel.

“Tingkat kesiapan alat dapat meningkat secara signifikan. Teknologi ini memungkinkan kami memangkas downtime, mempercepat layanan kepada pelanggan, dan memastikan tidak ada bottleneck dalam penanganan petikemas,” tambah Budi Cahyono.

Langkah JICT ini sejalan dengan tren global di mana pelabuhan-pelabuhan utama dunia mulai mengadopsi teknologi rendah karbon. Dengan armada EV ini, JICT tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai terminal pilihan utama yang memenuhi standar keberlanjutan.

Investasi pada teknologi hijau ini membuktikan bahwa produktivitas tinggi dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. JICT kini tidak hanya menjadi gerbang utama ekonomi nasional, tetapi juga pelopor pelabuhan modern yang bersih di Indonesia.

“Kami ingin memastikan JICT terus mampu bersaing dengan menghadirkan layanan yang tidak hanya cepat, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tutup Budi.

Sorotan Utama Armada EV JICT:
1. Zero Emission: Tidak ada gas buang karbon di area terminal.
2. Mengurangi polusi suara hingga lebih dari 50 persen dibandingkan mesin diesel.
3. Perawatan lebih simpel dengan teknologi elektrik yang canggih.
4. Pergerakan alat lebih halus dan presisi untuk keamanan peti kemas.