Mengusung ransel seberat 15 kilogram, menembus hutan, menantang angin kencang di tengah waduk, hingga harus merakit “kapal” sendiri untuk bertahan hidup. Itulah potret perjuangan puluhan remaja panti asuhan asal Jakarta dan Bekasi yang baru saja menuntaskan misi menantang di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat.
Bukan sekadar kemah biasa, kegiatan bertajuk “Program Masa Depan Cerah” yang digelar oleh Outward Bound® Indonesia (OBI) pada 5-10 Januari 2026 ini, menjadi kawah candradimuka bagi mereka untuk menemukan jati diri.
Mencari sosok “Ayah” di tengah hutan
bagi banyak anak panti asuhan, tumbuh besar tanpa figur orang tua adalah tantangan batin yang berat. Menyadari hal ini, OBI menghadirkan mentor bukan hanya sebagai pelatih, tapi sebagai role model.
“Kami melihat banyak anak yatim tumbuh tanpa figur panutan. Di sini, mentor hadir sebagai kakak, ayah, sekaligus sahabat. Tujuannya satu membangun karakter yang tangguh, kreatif, dan resilient,” ungkap Neil Laksmana Kusumowidagdo, Direktur Eksekutif OBI.
Memacu adrenalin
Program yang didukung oleh Bakti BCA ini menyuguhkan rangkaian tantangan yang memacu adrenalin.
Survival di Alam, memasang tenda sendiri, memasak dengan alat seadanya, dan membelah hutan dengan panduan peta serta kompas, menaklukkan Ketinggian, aksi high rope dari pohon ke pohon yang menguji nyali.
Puncaknya, mereka harus merakit kayu, drum bekas, dan tali menjadi rakit yang layak jalan untuk menyeberangi waduk.
Meski cuaca ekstrem diwarnai hujan lebat dan angin kencang, mental para remaja ini tak goyah.
“Mereka sangat mandiri. Adaptasi hanya butuh satu hari, sisanya mereka melibas semua tantangan dengan lancar,” ujar Adinda, Koordinator Program.
“Dulu saya takut, sekarang saya tau saya bisa!” seru
Raya (16), salah satu peserta asal Jakarta, tak bisa menyembunyikan binar matanya saat menceritakan pengalamannya.
“Seru banget! Ini pertama kalinya saya belajar critical thinking dan problem solving langsung di lapangan. Paling berkesan saat rafting dan berkemah. Saya jadi lebih percaya diri,” tuturnya penuh semangat.
Sejak berdiri pada 1990, OBI telah melatih lebih dari 100.000 orang—mulai dari pelajar, penyandang disabilitas, hingga jajaran direksi perusahaan raksasa Indonesia.
Djoko Kusumowidagdo, Founder & CEO OBI, menegaskan bahwa misi OBI tak akan berhenti di korporat saja.
“Kami akan terus menjangkau mereka yang membutuhkan—anak panti, penyandang disabilitas, hingga anak yang terlibat tawuran—untuk membangun karakter anak bangsa,” tegasnya.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakangnya, berhak memiliki harapan. Seperti filosofi OBI yakni “Creating a better future, one child at a time.”



