Garuda Yamato Steel gaet raksasa Jerman modernisasi Pabrik Cikarang

Industri baja Indonesia siap memasuki era baru! PT Garuda Yamato Steel (GYS) baru saja membuat langkah strategis berani dengan menggandeng mitra kelas dunia, SMS Group dari Jerman.
Kolaborasi ini bertujuan untuk memodernisasi total pabrik Beam Plant (BP-1) mereka di Cikarang, bukan hanya untuk pasar domestik, tapi juga untuk mewujudkan kemandirian baja nasional dan target dekarbonisasi pemerintah.
Presiden Direktur PT Garuda Yamato Steel, Tony Taniwan, menyatakan kolaborasi ini adalah komitmen nyata GYS untuk menjadi pioneer di Indonesia. Poin paling menarik dari modernisasi ini adalah peningkatan kapasitas produksi yang fantastis.
“Dengan modernisasi pabrik ini, peningkatan kapasitas beam plant (BP-1) meningkat dari semula 400.000 MT/tahun, menjadi 540.000 MT/tahun. Sehingga total kapasitas produksi terpasang dari hulu hingga hilir dapat mencapai 1 Juta Ton per tahun,” jelas Tony dalam keterangan ytertulis yang diterima, Rabu.
Peningkatan kapasitas produksi baja struktural secara signifikan ini ditargetkan untuk menjaga stabilitas suplai dan memperkuat fondasi industri baja nasional, terutama untuk menopang proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan swasta yang masif.
Kemitraan dengan SMS Group ini bukan sekadar soal kuantitas, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.
GYS akan mengadopsi teknologi modern untuk memproduksi baja ramah lingkungan (low carbon emission steel), sejalan dengan agenda dekarbonisasi industri baja Indonesia. GYS sendiri sudah menggunakan teknologi Electric Arc Furnace (EAF) yang lebih ramah lingkungan dan memaksimalkan bahan baku daur ulang.
Lewat modernisasi ini memungkinkan GYS memperluas portofolio produk, menciptakan variasi ukuran dan spesifikasi yang sebelumnya belum tersedia di pasar domestik dengan kualitas tinggi berstandar internasional (JIS, ASTM, SNI).
Dengan produk baru dan kapasitas jumbo, GYS menegaskan komitmennya untuk mengurangi ketergantungan impor baja struktural dan mendukung kebutuhan proyek fabrikasi yang lebih kompleks di dalam negeri.
Terkait hal tersebut, Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Dodiet Prasetyo, menyambut baik inisiatif yang terjalin dari kedua perusahaan.
“Langkah Garuda Yamato Steel menggandeng SMS Group merupakan contoh nyata bagaimana pelaku industri nasional menyelaraskan diri dengan agenda dekarbonisasi, percepatan pembangunan infrastruktur, serta peningkatan substitusi impor,” tegas Dodiet.
Sejak awal, GYS dikenal sebagai pelopor produksi baja tahan gempa di Indonesia, dirancang dengan daktilitas tinggi untuk wilayah rawan gempa. Inovasi mereka, GYS Tahan Gempa Plus, bahkan diklaim mampu mengurangi penggunaan material hingga 20% tanpa mengurangi kekuatan struktur.
Tony Taniwan menambahkan, transformasi ini bukan hanya ekspansi kapasitas, melainkan langkah strategis untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi pelanggan dan lingkungan.
“Fokus kami bukan sekedar mengejar persentase pangsa pasar, tetapi pada value creation yang lebih besar bagi pelanggan, industri, dan lingkungan,” pungkas Tony.
Proyek investasi Revamp BP-1 ini ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2027, melibatkan mitra lokal dan internasional, dan menjadi penentu masa depan industri baja Indonesia.


