Stop! Indonesia terancam krisis pangan di 2045? Jawabannya dibongkar habis di festival langka ini

By Ganet Dirgantoro Location: 3 min read85 views

Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia, Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) sukses menggelar Festival Jejak Pangan Lestari 2025 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jumat (24/10). Acara yang dihadiri ratusan orang ini bukan sekadar perayaan, melainkan seruan darurat untuk menyelamatkan masa depan pangan nasional.

Mengapa festival ini sangat penting? Karena Indonesia tengah berada di persimpangan jalan menuju “Indonesia Emas 2045”. Perwakilan Bappenas, Ifan Martino, secara terbuka mengakui bahwa tanpa transformasi sistem pangan yang lestari, kebutuhan masyarakat di masa depan bisa terancam.

“Keragaman pangan kita adalah superpower yang bisa menjawab semua tantangan itu. Jangan sampai kita mengabaikannya!” tegas Gina Karina, Kepala Sekretariat KSPL.

Festival ini benar-benar menjadi ajang “membongkar rahasia” tentang bagaimana pangan lokal bisa menjadi kunci utama sistem pangan yang sehat, beragam, adil, tangguh, dan lestari.

Apa saja yang dibahas?

Para pengunjung dibuat terpukau dalam sesi “Bincang Pangan Lestari Vol. 2” yang menghadirkan tujuh pakar. Mereka tidak hanya membahas kondisi saat ini, tetapi juga memproyeksikan skenario sistem pangan Indonesia di tahun 2045! Sebuah gambaran masa depan yang wajib diketahui semua pihak.

Dukungan internasional pun mengalir deras. Nils Hermann Ranum, Special Envoy Norwegia, melihat KSPL sebagai jembatan strategis yang menghubungkan pemangku kebijakan, menandakan isu ini bukan main-main di mata dunia.

Puncak acara adalah pertunjukan teater “Surat dari Ladang” oleh Teater Paradoks FISIP UI yang emosional, mengingatkan semua orang bahwa masalah pangan ada di dapur kita, bukan hanya di meja rapat. Bagi yang penasaran, festival ini juga memanjakan lidah dengan “MBG (Makan Bergizi Gak-pake-mahal)” yang menyajikan menu lokal terbaik dari Sabang sampai Merauke!

Pembicara pangan lestari di ajang Festival Jejak Pangan Lestari 2025 berfoto bersama usai diskusi bersama media. WowTrenz/ Ganet Dirgantoro

Tak heran Jejak Pangan Lestari menarik ratusan pengunjung? Karena festival ini adalah platform di mana harta karun pengetahuan dan kolaborasi dari 11 mitra utama KSPL dipertontonkan yang meliputi: CIFOR-ICRAF, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Garda Pangan, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Yayasan KEHATI, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Parongpong RAW Lab, Systemiq, dan WRI Indonesia.

Gina juga mengingatkan, “Kita punya modal besar: keragaman pangan! Ini kunci kita untuk membangun sistem pangan yang sehat, adil, dan tangguh”.

Kolaborasi

Festival ini juga menjadi ajang penguatan sinergi antara KSPL dengan pemerintah. Koordinator Bidang Pangan Bappenas, Ifan Martino, menegaskan bahwa visi KSPL—mendorong pendekatan ekoregionalisasi—adalah kunci untuk transformasi sistem pangan nasional. Ternyata, Bappenas dan KSPL sudah “sepiring” selama empat tahun!

Dukungan pun datang dari jauh. Nils Hermann Ranum dari Kedubes Norwegia menjanjikan komitmen untuk membantu Indonesia mewujudkan ketahanan pangan global seiring upaya menekan perubahan iklim. Sebuah pengakuan global atas peran strategis KSPL.

Makan Enak, Harga Hemat, Ilmu Padat!

Tak hanya diskusi berat, festival ini menghadirkan pengalaman yang sangat Instagramable dan mengenyangkan. Pengunjung diajak berkeliling di booth mitra KSPL untuk melihat berbagai inisiatif keren.

Paling menarik perhatian: Booth “MBG (Makan Bergizi Gak-pake-mahal)” yang menyediakan menu makan siang super lezat, bergizi, dan sangat terjangkau dari berbagai penjuru Indonesia (Barat, Tengah, Timur).

Lewat pentas teater Komunitas Teater Paradoks FISIP UI berjudul “Surat dari Ladang”, acara ditutup dengan pesan kuat: Pangan adalah isu personal, dan setiap individu punya peran untuk menciptakan sistem pangan impian, berbasis kearifan lokal.