Daewoong raih Prominent Award 2025 di bidang inovasi bioteknologi

By Ganet Dirgantoro Location: 2 min read64 views

Perusahaan farmasi asal Korea Selatan, Daewoong meraih penghargaan Prominent Award 2025 di bidang inovasi bioteknologi terbaik bersama dengan 15 perusahaan lain yang dinilai berhasil memperkuat daya saing industri dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

“Penghargaan ini menandai titik awal baru melampaui pencapaian selama 20 tahun terakhir. Kami akan terus menghadirkan obat-obatan inovatif dan teknologi mutakhir serta mendorong pertumbuhan bersama industri farmasi dan bioteknologi melalui produksi dalam negeri dan riset kolaboratif,” kata Head of Indonesian Business Division Daewoong, Baik In Hyun dalam keterangan yang diterima, Jumat.

Hyun menyampaikan komitmennya untuk memperkuat kapasitas produksi domestik melalui alih teknologi dari pabrik biofarmasi cGMP hingga sel punca.

Hyun juga bertekat untuk membangun fondasi bagi Indonesia untuk menjadi negara mandiri dalam biofarmasi dan
pemimpin dalam bidang pengobatan regeneratif. Perusahaan memelopori pembangunan fasilitas produksi
yang sebelumnya belum ada, serta melakukan alih teknologi produksi, sehingga meningkatkan
keberlanjutan industri kesehatan Indonesia.

Pada 2012, Daewoong mendirikan perusahaan patungan Daewoong Infion dan merampungkan pabrik
biofarmasi pertama di Indonesia dengan standar cGMP (current Good Manufacturing Practice). Melalui
pabrik ini, bahan baku obat aktif seperti EPO (Erythropoietin) dan EGF (Epidermal Growth Factor) dapat
diproduksi secara lokal, dan pada 2017, perusahaan meluncurkan biosimilar pertama di Indonesia, Epodion.

Demi memastikan terapi pengobatan yang aman bagi pasien di Indonesia, Daewoong secara konsisten
mengejar sertifikasi halal. Pada 2020, Epodion yang merupakan biofarmasi berbasis sel hewan untuk
pengobatan anemia, menjadi produk pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi halal.

Pada tahun yang sama, obat untuk ulkus kaki diabetik, Easyef, juga berhasil memperoleh sertifikasi halal.
Melanjutkan terobosan ini, Daewoong membangun pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang mampu memproduksi terapi berbasis sel punca, dan menjadi perusahaan Korea Selatan pertama yang memperoleh sertifikasi GMP (Good Manufacturing Practice) untuk fasilitas tersebut.

Pabrik ini dapat secara mandiri memproduksi rangkaian lengkap terapi berbasis sel, termasuk sel punca autologous, sel NK, eksosom, dan media kultur. Capaian ini memberikan harapan baru bagi pasien yang menghadapi keterbatasan terapi konvensional dengan menghadirkan terapi sel yang dipersonalisasi sekaligus memperluas akses terhadap pengobatan presisi.

Lembaga Riset Bersama UI, ITB, dan IPB membina Lebih dari 700 talenta farmasi dan bioteknologi,
Daewoong juga mempercepat peningkatan kapasitas klinis di sektor kesehatan Indonesia, dengan keyakinan
bahwa keahlian klinis merupakan penggerak pertumbuhan berkelanjutan.

Melalui Daewoong Foundation, perusahaan bermitra dengan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi
Bandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mendirikan empat lembaga riset. Lembaga-lembaga
ini menyediakan fasilitas unggulan dan program pendampingan untuk membina para peneliti berbakat,
melampaui dukungan material semata dengan tujuan menumbuhkan para inovator masa depan.

Dukungan riset mencakup bidang-bidang mutakhir seperti sel punca, gene editing, organoid, dan sistem penghantaran obat. Sejak dimulai sebagai program beasiswa pada 2009, Daewoong Foundation telah mendukung
pengembangan lebih dari 700 individu berbakat.

Perusahaan berupaya menjadi perusahaan farmasi dan bioteknologi peringkat teratas di Indonesia pada 2030. Hingga saat ini, Daewoong telah menanamkan investasi sekitar Rp2,9 triliun di Indonesia dan berencana memperluas total investasinya menjadi Rp5,26 triliun.

Investasi Daewoong mencakup beragam sektor kesehatan di Indonesia, termasuk alih teknologi produksi
toksin botulinum, pengembangan obat inovatif, peningkatan formulasi dan teknologi penghantaran,
biofarmasi, sel punca, perangkat medis, estetika, proyek kolaborasi terbuka, program beasiswa, hingga
inisiatif wellness.